Luhut Sebut RI Bisa Saja Alami Puncak Omicron Seperti Negara Lain

JawaPos.com – Menteri Koordinator bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan mengatakan, pemerintah terus memantau perkembangan Covid-19 varian Omicron yang saat ini terus meningkat penularannya di 150 negara.  Luhut mengaku, timbulnya gelombang Omicron juga berpotensi dialami oleh Indonesia. Namun, masyarakat tidak perlu panik dan tetap waspada terhadap dengan terus menjaga kedisiplinan protokol kesehatan Covid-19 yang baik.

“Saat ini, Omicron telah teridentifikasi di 150 negara dan menimbulkan gelombang baru dengan puncak yang lebih tinggi di berbagai negara dunia. Indonesia bukan tidak mungkin dapat mengalami hal yang sama. Namun kita tidak perlu panik, tetapi kita tetap waspada,” kata Luhut dalam konferensi pers secara virtual, Selasa (11/1).

Luhut menuebut, hingga saat ini jumlah kasus Covid-19 mencapai 802 kasus, tetapi sebagian masih berasal oleh Pelaku Perjalanan Luar Negeri (PPLN). Sehingga Ia menghimbau masyarakat untuk tidak bepergiran dulu keluar negeri dalam 2-3 minggu depan. “Dari 537 kasus di Jakarta, 435 kasus berasal dari PPLN,” ucapnya.

Luhut juga menyampaikan, pemerintah akan terus memonitor secara ketat perkembangan kasus dan akan mengambil langkah-langkah antisipasi yang diperlukan. Perawatan di RS akan menjadi salah satu indikator utama. “Kami akan high alert ketika BOR mendekati 20-30 persen,” ucapnya.

Dari hasil pengamatan terhadap pengalaman negara lain, kata Luhut, puncak varian omicron mencapai puncaknya dalam kisaran waktu 40 hari, lebih cepat dari varian Delta. Untuk kasus Indonesia sendiri, diperkirakan puncak gelombang karena Omicron akan terjadi pada awal Februari.

“Sebagian besar kasus yang terjadi diperkirakan akan bergejala ringan, sehingga nanti strateginya juga akan berbeda dengan varian Delta,” ungkapnya.

Luhut menambahkan, Indonesia saat ini jauh lebih siap dalam menghadapi potensi gelombang varian Omicron. Tingkat vaksinasi sudah lebih tinggi, kapasitas testing dan tracing kita juga jauh lebih tinggi. Sistem kesehatan kita juga sudah lebih siap, baik dalam hal obat-obatan termasuk molnupiravir dari Merck, tempat tidur RS, tenaga kesehatan, oksigen, dan fasilitas isolasi terpusat.

Dengan berbagai kesiapan tersebut, dan belajar dari pengalaman yang lalu, Luhut optimis kasus Covid-19 tidak akan meningkat setinggi negara lain. Namun syaratnya masyarakat semua harus berdisiplin. Keberhasilan masyarakat dalam mengendalikan varian Omicron tidak mungkin dapat dicapai tanpa kerja sama semua pihak, terutama dalam menjalankan protokol kesehatan.

“Kasus kemungkinan akan naik tapi kita jangan panik. Kita harus tetap waspada dan terus bekerja sama. Kita harus bersatu padu menghadapi musuh bersama variant Omicron. Karena hanya dengan bersatu, kita bisa mengatasi gelombang baru dan keluar dari pandemi Covid-19 ini,” pungkasnya.