Mahasiswa UI Manfaatkan Limbah Kulit Coklat Sebagai Detektor Covid-19

JawaPos.com – Indonesia merupakan salah satu penghasil coklat atau kakao (Theobroma cacao) terbesar di dunia. Sayangnya yang selama ini dimanfatkan baru sebatas biji coklatnya saja. Padahal kulit coklat dapat dimanfaatkan untuk menghasilkan senyata turunan teofilin. Senyawa ini bisa digunakan sebagai alat deteksi Covid-19.

Penelitian pemanfaatan kulit coklat untuk deteksi Covid-19 itu, saat ini sedang digarap empat sekawan mahasiswa Universitas Indonesia (UI). Mereka adalah Muhammad Hanif Fajari sebagai ketua. Kemudian Albertus Aldo, Zahra Nurul Firdausil Ala, dan Samuel Christian sebagai anggota.

Hanif menuturkan penelitian mereka digarap sejak Maret 2021 lalu. Dia mengatakan kulit coklat selama ini menjadi limbah tak terolah. ’’Pdahal Indonesia memiliki potensi untuk menghasilkan senyawa turunan Teofilin sebesar 24 kwintal,’’ katanya Selasa (25/1).

Dia menjelaskan senyawa Teofilin itu memiliki kemampuan untuk bereaksi dengan virus SARS-CoV-2 atau Covid-19 berdasarkan studi komputasi. ’’Sehingga dengan kondisi tersebut, Teofilin memiliki kemampuan untuk mengenal virus SARS-CoV-2,’’ tuturnya.

Dalam penelitiannya kali ini, Hanif dan teman-temannya menggunakan protein Spike Glikoprotein SARS-CoV-2 sebagai studi pendahuluan. Dia menjelaskan untuk melakukan uji sampel, harus melalui rangkaian uji klinis. Hanif menuturkan mereka berencana menggunakan sampel swab atau ludah dengan alat pendeteksi elektrokima.

Hanif menjelaskan kosentrasi penelitiannya adalah studi pendahuluan mengenali fungsi dari senyawa Teofilin sebagai senyawa elektroaktif dan bioaktif untuk deteksi Covid-19. Upaya pendeteksian dilakukan dengan sensor elektrokimia (biosensor) secara komputasi. Dengan metode Schorodinger yang diterapkan, menunjukkan bahwa Teofilin dapat dijadikan senyawa elektroaktif dan bioaktif untuk pendeteksi virus SARS-CoV-2 atau Covid-19.

Pemanfaatan teknologi biosensor ini lebih murah, mudah dilakukan, dan hasilnya lebih teliti. Keunggulan ini menjawab persoalan deteksi Covid-19 berbasis swab PCR yang mahal, lama, dan sulit dilakukan.

Dia bersyukur risetnya tersebut menjadi juara pertama ajang Tanoto Student Research Award (TSRA). Hanif mengatakan penelitian yang lolos dalam ajang ini mendapatkan pendanaan Rp 7,5 juta. Dia mengatakan melalui pendanaan tersebut, dia dan anggota timnya akan melanjutkan riset pemanfaatan kulit coklat untuk deteksi Covid-19 di tingkat laboratorium.